500

APAKAH TEORI ITU?

Setiap teori mencerminkan asumsi penemu atau pembuatnya. Teori di definisikan sebagai seperangkat asumsi saling berkaitan yang memampukan para ilmuwan menggunakan penalaran deduktif logis untuk merumuskan hipotesis-hipotesis yang dapat di uji (Jess feist, 2008).

Dari pengertian teori diatas dapat dijelaskan lebih lanjut. Pertama, teori adalah seperangkat asumsi. Hal ini berarti teori tidak mungkin di buat berdasarkan hanya dengan satu asumsi tunggal saja. Kedua, teori adalah seperangkat asumsi yang saling berkaitan. Asumsi yang berdiri sendiri tidak dapat membuat hipotesa yang akurat dan bermakna, selain itu tidak memiliki konsistensi internal dua criteria yang dibutuhkan dalam membuat teori. Kata kunci ketiga adalah asumsi.  Komponen dalam membuat teori bukan hanya sebuah fakta yang teruji validitas dan reliabilitasnya, namun berdasarkan asumsi pembuat teori. Keempat, teori adalah penalaran yang deduktif logis. Titik utama dalam membuat teori terletak pada konsistensi yang logis agar mampu mendeduksi dengan jelas hipotesi-hipotesis yang sudah ditetapkannya. Kelima, teori dapat di uji. Hipotesi yang dibuat harus dapat di uji kebenarannya.

Sebuah teori yang baik jika memenuhi beberapa syarat dalam membuat teory adapun syaratnya adalah: Pertama, membangkitkan riset. Teori yang baik jika kemampuannya dapat menstimulus dan memandu riset-riset berikutnya serta dapat dikembangkan lebih lanjut. Kedua, dapat difalsifikasikan. Artinya sebuah teori harus dapat difalsifikasi dengan cara menangkap riset yang mendukung maupun yang kurang mendukung konsep utamanya. Ketiga, dapat mengorganisasikan data. Hal ini diartikan sebagai teori yang baik mampu mengorganisasikan data riset yang tidak bisa dibandingkan dengan satu sama lain. Tanpa pengorganisasian dan pengklasifikasikan temuan-temuan riset akan terisolasi dan tidak bermakna. Kempat, menuntun aksi artinya sebuah teori yang baik jika mampu menuntun para praktisi menangani secara garis besar masalah-masalah keseharian kehidupan sehari-hari. Kelima, konsistes secara internal. Sebuah teori yang baik tidak perlu konsisten dengan teori yang lain melainkan harus konsisten dengan dirinya sendiri. Terakhir, efektif dan efisien. Hal ini diartikan sebagai jika ada dua teori yang setara dengan kemampuan mereka untuk membangkitkan riset, memberikan makna bagi data, dapat menuntun para praktisnya dan kosisten dengan dirinya sendiri, maka sebaliknya kita harus memilih teori yang lugas.

Sumber bacaan:

Jess feist. Theory of personality ,2008

Back to top