541

Belajar

 

Paham bahwa satu-satunya yang pasti adalah perusahaan, sudah dipahami semua orang. Situasi ini pun pasti membawa dampak juga pada proses pembelajaran. Lihat saja betapa anak berusia prasekolah menguasai komputer. Di perusahaan, kalau dulu orang cukup dikirim untuk kursus, atau bersekolah lebih lanjut, sekarang korporasi sudah membuat universitas, membuat segala macam upaya untuk memasukkan pembelajaran ke para karyawannya.

BELUM lagi, pengetahuan juga berkembang pesat. Apa yang kita pelajari sekarang, belum tentu valid untuk digunakan pada masa mendatang. Oleh karena itu, manusia, mau tidak mau, harus senantiasa belajar terus, meskipun ia sudah tidak lagi duduk di bangku sekolah. Kegiatan belajar yang dibangun oleh sivitas akademika memang penting, tetapi kegiatan belajar perlu digalakkan on the job, berupa life long learning, dengan metode yang lebih holisitis dan terap unuk dimanafatkan dalam pekerjaannya sehari-hari. Seperti yang dinyatakan oleh pakar pendidikan di dunia kerja, Peter Lassy (1998) mereka yang sukses hanyalah mereka yang belajar secara terus-menerus. Demikian juga halnya dengan organisasi, organisasi yang sukses adalah organisasi pembelajar, karena tanpa belajar tidak akan ada perbaikan dan tanpa perbaikan, organisasi akan stagnan.

Seorang CEO pernah mengungkapkan bahwa masalah dalam mempelajari sesuatu adalah bahwa orang tidak belajar sampai ke makrifatnya, alias insight-nya, aha-nya, dan bahkan pencerahan ilmunya. Zaman dahulu belajar memang banyak diasumsikan sebagai pengumpulan fakta-fakta dan penumpukkan pengetahuan sehingga metode pembelajaran banyak diarahkan pada hal ini saja, yakni satu arah. Belajar sekarang bukannlah sekedar menghafalkan fakta-fakta dan rumus-rumus, melainkan perlu sampai pada penarikan kesimpulan, bakhan imajinasi mengenai implementasinya. Menurut pakar psikologi Edward Thorndike dan BF Skinner, gaya pembelajaran juga sangat berpengaruh. Sekarang harus ada upaya si pembelajar untuk mengeksplorasi lingkungan dan belajar lewat pengalaman. Koneksi yang dibuat oleh pembelajar ide-ide yang ditangkapnya melalui proses “belajar melalui pengalaman” akan membuat pengetahuan menempel lebih lama dan menetap ketimbang bilamana “disuapi” semata oleh pendidik. Belajar, karenanya, merupakan proses sense making yang berkesinambungan meliputi proses berfikir, menanalisis yang melibatkan keseluruhan indra serta memori kita.

Belajar sambil berimajinasi

Belakangan ini, beragam metode pembelajaran semakin banyak dapat dijadikan sebagai alternatif bagi pilihan masing-masing gaya belajar. Metode-metode tersebut menyasar pada peningkatan rangsang gerak, visual, dan auditif. Ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa orang yang belajar dengan hanya melibatkan satu indra akan cepat jenuh, sementara dengan mengoptimalkan keseluruhan indra ditambah dengan pelibatan emosi akan menyentuh minatnya. Disini, kesempatan untuk mendapatkan pencerahan jadi lebih terbuka. Selain itu, suasana belajar yang Santai, penuh imajinasi akan memudahkan pencerahan dan cepat memberi logika permasalahan. Kita perlu menemukan cara pelatihan yang powerfull, trendi efektif dan experiental bagi para pekerja, tetapi tidak membebaninya.

Contoh metode belajar pilot yang menggunakan simulator sebagai alat belajar juga dapat digunakan di organisasi untuk memberi kesempatan bagi si peserta pelatihan berhadapan dengan kasus-kasus nyata di dunia kerja dengan resiko yang minimal, seperti layaknya pilot yang menghadapi beragam situasi sulit dunia penerbangan tanpa perlu membahayakan jiwanya karena menggunakan simulator itu. Real case yang disimulasi dapat membuat peserta berlatih bereaksi. Dengan menjalani simulasi, diharapkan pengalaman peserta pelatihan tidak sekedar rasional tetapi juga emosional. Dari sinilah para peserta akan bisa mencerap tidak hanya melalui otak, tetapi juga perasaannya.

Sistem belajar yang mutakhir

Produsen pakaian olahraga Adidas sangat menyakini bahwa belajar di perusahaan haruslah light, desirable, and fun, sehinggga pendekatan konvensional dikurangi secara drastis. Sistem pembelajaran harus di-buy in oleh puluhan ribu karyawannya. Semua karyawan harus secara antusias dan berkmauan untuk belajar, baik secara formal maupun informal. Untuk itu, visi organisasi tentang peningkatan peringkat kecerdasan karyawan harus digambarkan secara konkret. Semua karyawan harus tahu bahwa working is learning and larning is working

Demikian pula, kepemimpinan berarti sharing antara mengajar dan belajar. Hal yang perlu diyakini setiap karyawan adalah bilamana mereka tidak belajar hal baru, mereka akan kehilangan kesempatan untuk berinovasi. perusahaan juga juga tidak boleh melupakan generasi termuda yang ada di pasaran yang dibesarkan melalui youtube, instagram, dan pinterest. Pendidikan dalam dunia yang serba instan ini menuntut perubahan yang instan pula. Tidak ada waktu untuk dialog yang mendalam. Jam pelatihan semakin lama semakin dipersingkat dengan alasan biaya ataupun tidak bisanya menarik seseorang dari tugasnya untuk waktu yang panjang. Itulah sebabnya, kita pun perlu lebih inovatif dalam merancang proses belajar di pekerjaan.

Yang jelas, belajar secara formal harus dibarengi dengan kegitaan-kegitaan nonformal dan infomal. Padahal, seperti yang kita sebutkan di atas, belajar perlu mencapai tingkat pencerahan, agar efektif. Benedic Care penulis “Ho We Learn: the Surprising Truth About When, Where, and Why I Happens”, mengatakan “The brain Wants variation” It wants to move, It wants to take periodic breaks. “Anak muda di Adidas ditantang: “If You think You’re So Smart, Why Don’t You Share Your Knowledge?”. Cara pun bisa dilakukan secara bervariasi, apakah menggunakan video, musik, drama, yang penting adalah berbagai ide, komunikasi dan kolaborasi untuk mendapatkan hasil yang optimal. Para profesional sumber daya manusia dan pembelajaran perlu berpikir ulang dan mengimajinasikan ulang integrasi antara belajar dan kerja. Pemanfaatan sosial media, mencari jalan agar belajar tetap menarik, menembus sekat proses belajar dan belajar merupakan beragam cara agar pembelajaran yang disasar bisa dicapai dengan efektif.

Sumber:

KOMPAS. Sabtu, 17 Januari 2015

Back to top